Tuesday, December 2, 2014

MENGENDALIKAN HAMA WERENG COKLAT

Hama wereng saat ini telah menjadi hama utama yang menyerang tanaman padi. Kerugian petani akibat peledakan hama ini pun tidak sedikit. banyak pula petani yang harus gagal panen akibat peledakan populasi wereng.



Hama wereng sebenarnya sudah dikenal lama oleh petani Indonesia. Namun setelah revolusi hijau digalakkan di Indonesia, yang memacu masyarakat menanam padi secara intensif secara terus menerus menyebabkan siklus hidup hama ini menjadi lebih panjang dan akhirnya memicu peledakan hama.

Tidak bisa dipungkiri bahwa peledakan hama wereng pada awalnya dipicu oleh ulah manusia itu sendiri. Penerapan teknologi maju disertai dengan hasrat yang tinggi untuk mewujudkan swasembada beras kala itu membuat petani menanam menerapkan model monokultur, menanam padi secara terus menerus selama 1 tahun penuh. Penanaman padi denga varietas yang sama tanpa pergiliran tanaman inilah yang memicu hama dapat bertahan hidup dan berkembangbiak dengan baik dan memicu peledakan populasi.

Pengendalian hama wereng yang dilakukan sejak tahun 1974 hingga saat ini menunjukkan bahwa pengendalian wereng tidak akan berhasil jika petani hanya menerapkan 1 cara saja. Pengendalian secara terpadu guna mengontrol jumlah populasi hama mutlak dilakukan untuk mengantisipasi peledakan hama yang lebih besar akibat resistensi hama wereng itu sendiri.

Pengendalian 
1.  Pengaturan Pola Tanam
Tanam Serempak
Tanam serempak penting dilakukan oleh petani karena selain untuk meminimalisir serangan, tanam serempak juga akan memutus siklus hidup hama karena waktu panen yang serentak, serta pemberaan lahan.

Pergiliran Tanaman
Hama wereng coklat tidak mempunyai inang lain selain padi. Pergiliran tanaman akan membuat hama kehabisan sumber makanan yang dapat menjadikan terputusnya siklus hidup wereng.

Pergiliran Varietas Tanan
Pada daerah-daerah tertentu dengan sumber air melimpah serta kebiasaan budidaya monokultur yang susah diubah, Pergiliran Variaetas tanan penting dilakukan untuk mencegah resistensi hama. 

2. Pemanfaatan Musuh Alami

Paedorus sp ( Tomcat ), Cocsinella sp ( kepik emas ), serta laba-laba  merupakan patner petani dalam mengendalika hama wereng. Selain Itu, Jamur Parasit Metarizium sp dan Beveria sp juga bisa dimanfaatkan para petani untuk pengendalian hayati.

3. Pengendalian Nabati
Bahan nabati yang bisa digunakan untuk mengendalikan wereng adalah daun nimba, mindi dan tembakau.

4. Pengendalian Secara Kimia
Tindakan ini bukan merupakan langkah pencegahan lagi tetapi merupakan langkah pembasmian. Langkah ini bisa dilakukan dengan menggunakan insektisida berbahan aktif buprofen, BPMC, fipronil, amitraz, bupofresin, karbofuran, karbosulfan, metalkarb, MIPCI, propoksur atau liarnetoksan dan imidakloprid. Pengendalian secara kimia sebaiknya memperhatikan anjuran dan tingkat serangan hama. jangan sampai pengendalian kimia malah manjadikan hama menjadi resisten sehingga nantinya akan lebih sulit dikendalikan.
 

No comments:

Post a Comment