Monday, December 22, 2014

PENERAPAN “ISSE” UNTUK KESEJAHTERAAN PETANI SAWIT



Minyak sawit (CPO) saat ini telah menjadi komoditas penting yang menyerap 4,5 Juta tenaga kerja disektor on farm. Komoditas ini juga menjadi andalan pemerintah disektor pertanian.
Tahun 2013 saja, devisa yang dihasilkan dari produk sawit mencapai 15,85 Miliar US Dollar atau sekitar Rp. 170 triliun. Pesatnya pertumbuhan perkebunan kelapa sawit menempatkan Indonesia menjadi Negara nomor 1 produsen minyak sawit dunia dengan luas perkebunan lebih dari 10 juta Hektar. Dari luasan itu, 4,4 Juta ha dikelola oleh rakyat secara mandiri.

Meski komoditas sawit menjadi penggerak ekonomi nasional, sayangnya nasib petani sawit masih menemui banyak kendala. Apalagi kini harga sawit anjlok akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia. Perusahaan besar bisa saja melakukan efisiensi untuk menghadapi turunnya harga, namun hal yang sama sangat sulit dilakukan petani karena luasan lahan yang terbatas. Disaat yang sama, kebutuhan akan pupuk, saprodi, juga meningkat memaksa petani sawit harus melakukan upaya lain untuk penghematan.

Salah satu upaya penghematan yang masih mungkin dilakukan oleh petani dengan luasan areanya yang terbatas adalah dengan Integrasi Sawit-Sapi-Energi (ISSE). Dengan teknologi ini, bukan hanya langkah penghematan saja yang didapat petani, tetapi penghasilan tambahan dari hasil ternak berupa daging juga bisa menjadi tambahan penghasilan petani. Teknologi ini menganut prinsip ‘Zero Waste’ dengan mengoptimalkan pengelolaan residu tanaman sehingga tidak ada yang terbuang percuma.
Pelepah sawit merupakan sumber pakan potensial jika dioptimalkan, dengan kadar protein kasar mencapai 3,67%. Penggunaan pelapah sebagai pakan sebaiknya diolah dulu menjadi bentuk cacahan kering untuk memudahkan sapi dalam mengunyah dan mencernanya. Gunakan mesin pencacah untuk menghaluskan karena mampu mencacah pelepah utuh sampai dimeter 20 cm serta hasilnya pun lebih halus.

Kotoran sapi sebagai energi alternatif jika diolah sebagai bio gas. Gas bio (methan) yang dihasilkan dari kotoran sapi mempunyai nilai kalor 4800-6700 kkal/m3 yang akan menghasilkan bio gas dengan komposisi 54-70% metana, 27-45% karbondioksida, 0,5-3,0% nitrogen,0,1 karbonmonoksida, 0,1% oksigendan sedikit sekali hidrogen sulfida, amoniak, dan nitrogen oksida. Dari 7 ekor sapi dapat menghasilkan bio gas setara dengan 4,92 liter minyak tanah.

Residu bio gas berupa ampas bio gas cair (slury) dapat diaplikasikan untuk pemupukan. Dari 7 ekor sapi akan diperoleh slury sekitar 140 liter per hari. Slury ini dapat langsung di aplikasikan ke areal perkebunan sawit atau bisa juga dikeringkan dahulu sebagai pupuk kompos padat. Dengan demikian penggunaan pupuk kimia dapat dikurangi oleh petani, sehingga upaya penghematan dapat dilakukan.

No comments:

Post a Comment