Sunday, December 7, 2014

MENGENDALIKAN ULAT GRAYAK

Ulat Grayak (Spodoptera litura) merupakan hama penting pada tanaman kedelai. Hama yang bersifat polifag ini juga menyerang tanaman padi, jagung, kentang, kacang hijau, tembakau, kapas, bayam dan kubis. Kerusakan kedelai akibat hama ini sekitar 20-40%, sedangkan resiko kerusakan pada tanaman kubis berkisar 70%. Berdasarkan data BPS 1993, serangan ulat grayak di Indonesia mencapai 4.149 ha dengan intensitas serangan 17,80%.

Bioekologi

Serangga dewasa berupa nge gat abu-abu meletakkan telur pada daun secara berkelompok. Ukuran tubuh ngengat betina 14 mm, sedangkan ngengat jantan17 mm.Sedangkan setiap kelompok telur terdiri dari 30-700 butir, telur akan menetas setelah 3 hari. Ulat yang menetas akan memakan epidermis daun dan setelah beberapa hari ulat mulai berpencar untuk memakan bagian tanaman. Ulat grayak aktif pada malam hari. Selain memakan daun, ulat dewasa juga akan memakan polong muda dan tulang daun muda.

Pengendalian

Pengendalian ulat grayak dapat dilakukan dengan dengan beberapa cara antara lain:

a. Tanam Serempak
Dengan penanaman secara serempak diharapkan tingkat serangan ulat grayak dapat dimimalisir,

b. Pelestarian Musuk alami
Pelestarian musuh alami (parasit, predator) sangat penting untuk menekan populasi sekaligus menciptakan keseimbangan ekosistem. Bacillus thuringiensis, Metarhizium anisopliae, Nomuraea rileyi, Steinernema dan Heterorhabditis merupakan mikroorganisme yang dapat diaplikasikan guna untuk menekan populasi ulat grayak.

c. NPV (nuclear-polyhedrosis virus)
adalah virus patogen serangga berbentuk batang dan terdapat di dalam inclusion body yang disebut polihedra. Polihedra berbentuk kristal bersegi banyak, terdapat di dalam inti sel yang rentan dari serangga inang, seperti hemolimfa, badan lemak, hipodermis, dan matriks trakea. NPV memiliki sifat menguntungkan, antara lain: a) inangnya spesifik, b) tidak membahayakan musuh alami, manusia, dan lingkungan, (c) dapat mengatasi masalah resistensi hama terhadap insektisida, dan (b) kompatibel dengan taktik PHT lainnya, termasuk insektisida kimiawi.

d. Pengendalian Kimiawi
Jika tingkat serangan telah melampaui ambang batas ekonomi, pengendalian kimia dapat dilakukan dengan tetap memperhatikan petunjuk penggunaan. beberapa bahan aktif perstisida yang dapat dipakai antara lain: Sipermetrin, Profenofos, Fenvalerat, Abamektin, Alfa sipermetrin, Klopirifos, Asefat, Klorpirifosfuazuron, Karbofuran.

No comments:

Post a Comment